Aman Menjadi Diri Sendiri

Aman Menjadi Diri Sendiri

Harry Lee Contributor
147

Sudah menjadi kebiasaan umum bagi kita untuk memandang anak-anak kita dan melihat mereka sebagai kesempatan kedua bagi kehidupan kita sendiri. Kita menatap tangan-tangan mungil mereka dan membayangkan tangan-tangan itu memegang piala yang tak pernah kita menangkan, atau ijazah yang tak pernah kita raih. Namun, pengasuhan yang sejati bukanlah tentang menjadi seorang arsitek yang memaksa sebuah bangunan untuk mengikuti blueprint yang telah ditentukan; melainkan tentang menjadi seorang tukang kebun.

Seorang tukang kebun tidak menyuruh bunga matahari untuk menjadi bunga mawar. Ia hanya menyediakan tanah, air, dan cahaya, lalu mundur sejenak untuk menyaksikan keajaiban dari apa yang memang sudah menjadi kodrat benih itu sejak semula.

Alkitab memberikan kepada kita sebuah pedoman yang indah, namun sering kali disalahpahami: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” — Amsal 22:6

Dalam konteks aslinya, frasa “jalan yang patut baginya” tidak berarti “jalan yang diinginkan orang tua baginya.” Frasa ini merujuk pada “kecenderungan” atau temperamen unik yang telah dianugerahkan Allah kepada anak tersebut. Tugas kita bukanlah membengkokkan mereka agar sesuai dengan kehendak kita, melainkan membantu mereka menemukan jalan yang telah diletakkan Allah di dalam hati mereka.

 

Baca Juga: Pencegahan Bunuh Diri Remaja

 

Lebih lanjut, kita diingatkan: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” — Efesus 6:4

Tidak ada yang memicu “amarah” atau rasa sakit hati pada diri seorang anak lebih cepat daripada perasaan bahwa mereka hanyalah sebuah “proyek” yang harus dikelola, dan bukannya seorang pribadi yang harus dikasihi.

Jika kita ingin mengasihi anak-anak kita sebagaimana Kristus mengasihi kita, kita harus menyadari bahwa kasih belumlah menjadi kasih yang sejati sampai kasih menjamin adanya kebebasan. Kasih memberikan kebebasan untuk Berbuat Salah dan Memperbaikinya: Kasih adalah jaring pengaman, bukan sangkar. Jika seorang anak tidak pernah diizinkan untuk gagal, ia tidak akan pernah belajar bagaimana caranya untuk bangkit kembali. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia untuk berbuat “salah dan memperbaikinya”.

Anda harus memberikan kebebasan kepada anak-anak Anda untuk Memiliki Pendapat. Anak Anda adalah jiwa yang mandiri dan terpisah dari Anda, bukan sekadar gema dari suara Anda sendiri. Ketika kita mengizinkan mereka untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan penuh rasa hormat, kita sedang mengajarkan kepada mereka bahwa pemikiran mereka memiliki nilai yang berharga. 

Anak-anak Anda harus bertumbuh bebas dari Ancaman: Jika seorang anak hanya patuh karena takut akan “diputus’ hubungan emosional atau dukungan finansialnya, mereka tidak sedang belajar tentang kasih—mereka sedang belajar tentang cara bertahan hidup. Kasih yang sejati tidak berkata, “Lakukan kehendakku, atau aku akan menarik kembali kasih sayangku.” Sebaliknya, kasih itu berkata, “Aku mencintaimu, bahkan ketika kita tidak sependapat.” Yang harus kita ingat adalah kasih bukan bersifat transaksional.

 

Baca Juga: Memulihkan Luka Batin Anak yang Punya Ibu Narsistik (Part 2)

 

Mari kita belajar sejenak tentang kisah “Menjadi Diri Sendiri”: Fred Rogers

Jika Anda berminat untuk mengetahui lebih banyak tentang bapak Fred Rogers Anda dapat mengunjungi Website berikut: https://www.misterrogers.org/about-fred-rogers/

Anda mungkin mengenalnya sebagai Mr. Rogers, pria yang menghabiskan puluhan tahun mengajarkan anak-anak bahwa mereka istimewa “apa adanya mereka”. Namun, Fred Rogers tidak menjadi sosok tersebut secara kebetulan.

Tumbuh besar dalam keluarga kaya di Pennsylvania, Fred dihadapkan pada ekspektasi yang sangat tinggi. Ia adalah anak yang agak lemah secara fisik, pemalu, dan kesepian. Orang tuanya bisa saja dengan mudah mendesaknya untuk menjadi pebisnis yang tangguh atau pemimpin yang berwibawa demi menjaga citra keluarga. Namun, alih-alih melakukan itu, mereka memberinya ruang untuk menjadi pribadi yang peka dan sensitif.

Kakeknya, Freddie McFeely, memainkan peran yang sangat besar dalam hal ini. Ia pernah berkata kepada Fred kecil, “Kau telah menjadikan hari ini hari yang istimewa, hanya dengan menjadi dirimu sendiri.” Ia tidak berkata, “dengan menjadi sosok yang kuinginkan darimu.”

Karena Fred diberi kebebasan untuk menjadi dirinya yang pendiam, mencintai musik, dan penuh empati—tanpa diancam atau dipaksa masuk ke dalam cetakan karakter yang “lebih Tangguh”—ia tumbuh menjadi pria dengan kesabaran yang legendaris. Ia tidak sekadar “berpura-pura” bersikap baik; ia benar-benar baik hati karena ia telah diizinkan untuk tumbuh dan menjadi dirinya sendiri seutuhnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang paling dicintai dalam sejarah, bukan karena ia mengikuti impian orang tuanya, melainkan karena ia didukung untuk menemukan impiannya sendiri.

Mari kita luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan apa yang telah saya tuliskan dan baca bersama ini.

Mengasuh anak adalah tindakan “melepaskan” yang paling hakiki. Ketika kita berhenti mencoba menjalani hidup melalui anak-anak kita, akhirnya kita memberi mereka ruang untuk bernapas. Ketika kita berhenti menuntut agar mereka mewujudkan impian-impian kita, kita memberi mereka keberanian untuk mengejar impian-impian yang telah Tuhan berikan kepada mereka. 

 

Doa

“Bapa Surgawi, bantulah aku untuk memegang anak-anakku dengan tangan terbuka. 

Karuniakanlah kepadaku kasih karunia untuk memupuk impian mereka, bukan impianku sendiri; serta hikmat untuk mengasihi mereka di tengah setiap kesalahan yang mereka perbuat. Kiranya rumahku menjadi tempat kebebasan, bukan ketakutan; dan kiranya kasihku senantiasa menjadi pelabuhan yang aman bagi jiwa unik yang telah Engkau ciptakan di dalam diri mereka.

Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.”

 

Artikel ini adalah hasil karya dari kontributor kami dan segala isi artikel ini adalah tanggung jawab kontributor.

Ikuti Kami